Malam itu toko tutup. Sebuah Galeri seni yang terang dan megah dihiasi dengan hamparan berbagai obyek indah yang memanjakan mata hanya dengan melihatnya. Lengkap dari lukisan sampai patung, semua tersedia. Namun yang menarik, best seller tempat ini justru sebuah alat peraga seni pertunjukan tutur cerita yang dinamakan Wayang. Karakter kehidupan, bayangan tingkah laku manusia.
Ada dua orang tamu bertandang kesana, disambut oleh seorang Shopkeeper/pramuniaga/penjaga toko.
"Bagaimana penjualan bulan ini?" tanya seorang Kakek-kakek berkulit putih/pink, bermata sipit dan bertubuh tambun.
"Aman Pak, Alhamdulillah seperti biasa melebihi harapan/target" jawab seorang pemuda tampan si penjaga toko.
"Wah kalau begitu harus dinaikin nih targetnya, nampaknya saya pasang terlalu rendah". Mereka tertawa bareng.
"Ingat ya, pelayanan harus nomer satu. selalu lakukan SOP (Standar Operasional Prosedur) dasar. Kasih salam, senyum dan tanggap itu jangan sampai kamu tinggalkan".
"Dan ingat, kita ini tidak hanya bekerja untuk perut kita sendiri. Banyak perut anak yatim piatu panti asuhan yang menggantungkan hidupnya pada keberlangsungan Toko ini".
'Benar-benar bajingan tua, lihai betul pilihan katanya' ujar pria disebelahnya dalam hati.
"Jangan lupa nanti setor ke Yayasan". Ini mau aku belanjakan sedikit buat nyenengin anak-anak panti" sembari tangannya berpose gunting lalu menempel-lepaskan jari telunjuk dan jari tengahnya sampai beberapa kali. Yang mempunyai arti kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga karena menyantuni anak yatim.
'Benar-benar bangke nih tua bangka' pria disebelahnya sembari tertawa,
'Jangankan meminta maaf, ia adalah pengecut yang bahkan tidak pernah berpikir untuk memperbaiki segala kejahatan yang sudah dilakukannya di masa lalu.
Tua Bangka ini benar-benar bangsat. Dia berak lalu menyuruh korbannya untuk membersihkan kotorannya sendiri. Ia tahu efek kerusakan yang diperbuatnya, yang sudah dan akan terjadi.. tapi sengaja diam membiarkannya, malah justru menikmatinya, merasa puas akan kemalangan orang-orang tersebut. Bahkan dosa jariyah akibat perbuatannya yang akhirnya mempengaruhi orang-orang disekitar korbannya yang juga jadi ikut menderita... Bajingan ini sama sekali tidak peduli. Bahkan senang riang gembira, menertawakan kemalangan mereka sampai terkekeh-kekeh.
Benar-benar bajingan sejati. Pecundang yang selalu lepas tanggungjawab.
Tapi ya itu.. sekali bajingan tetap bajingan!. Namanya watak itu sulit diubah'.
Apa ia peduli tentang bersama Rasulullah di Surga? jelas tidak. Apa ia peduli kepada anak-anak yatim yang dibawahi Yayasan bentukannya itu? Tentu tidak, mereka semua cuma dianggapnya alat untuk memenuhi tujuannya.. yaitu agar bisa masuk surga. Itupun dapat bonus didunia yaitu harum namanya dicap sebagai orang baik dan dermawan. Sungguh klise bukan.
Satu-satunya yang ia pedulikan adalah perutnya sendiri.
Dan lucunya ia adalah seorang bajingan yang tidak terima disebut bajingan.
Apa dia berpikir bahwa duit haramnya itu bisa menyelamatkannya di Akhirat nanti?. Sungguh?. Ia merasa kalau dirinya itu pintar dan hendak mengakali Tuhan?.
Ignorance, itulah yang selalu dilakukannya. Ia tahu tapi pura-pura nggak tahu, sengaja tidak mau tahu. Ya sudah jalani saja dengan masa bodohnya.
Sebelum pergi ia mengeluarkan beberapa perhiasan, cincin, gelang dan liontin. Barang selundupan. Termasuk melepas berbagai perhiasan yang melekat pada tubuhnya. Melucuti semuanya. Tentunya untuk dijual kembali disana. "Enak aja, ngasih bea masuk sampai pajak. Harusnya mereka yang berterimakasih kepadaku sehingga orang-orang sini bisa memiliki barang-barang cantik ini".
Tua Bangka ini tahu benar cara memanfaatkan kebaikan seseorang. Di Inggris, Galerinya ini tidak boleh menjual Jewelry karena dianggap tipe usaha yang berbeda. Tapi disini para petugas/pejabatnya tidak mempersoalkan hal tersebut, apalagi itu masih dianggap bersentuhan dengan budaya yang sama. Mereka langsung mengiyakan waktu melihat wayang memakai berbagai macam perhiasan batu permata. Tidak mempersulit, berbeda dengan orang-orang kita yang justru melihat ini sebagai celah kesempatan untuk mencari tambahan kalau tidak bisa disebut memeras.
"Setelah ini mau kemana lagi Ying?"
"Mumpung sudah di Jepang, kita cari hiburan. Gimana kalo makan ikan buntal?".
"Ramen original dong, yang ada Babinya"
"Haram! Nggak-nggak. Toying langsung marah dan menolak keras.
'Padahal semua yang haram ia kerjakan, bahkan ia sangat gemar makan duit haram, ia bisa hiduppun dari duit haram. Bisa aja nih Mucikari. Padahal makan babi itu resikonya palingan.. kenyang '.

0 komentar:
Posting Komentar
Teman-teman, komentar yang sopan ya (jangan bikin sampah). Mohon jangan memberi komentar beserta link. Terima kasih (^-^).